perpisahan bukan karena keinginan kita itu jauh lebih menyakitkan daripada putus karena kita yang menginginkannya. Alasan yang susah untuk diterima tapi juga susah untuk diingkari. Kali ini bukan karena aku atau dia yang berselisih paham, tapi karena keluarga. Ini baru pertama aku alami. begitu sulit untuk menerimanya. Semua perasaan bercampur jadi satu hingga membuat sesak. Apa yang bisa aku lakukan sekarang, hanya bisa menunggu keajaiban yang bisa membuat semua keadaan ini berubah.
Susah untuk mendiskripsikan apa yang aku rasakan sekarang. Marah? Ya, tidak bisa menerima kenyataan?Ya, tapi apa yang bisa aku lakukan. berjuang untuk membalikan keadaan? Rasanya itu sudah tidak mungkin dan tidak akan berhasil. Aku lebih suka diam, mencoba menerima semua keadaan. mencoba untuk terbiasa dengan keadaan, dan mencoba tegar. Aku cuma mau, bisa cepat beradaptasi dan cepat untuk lupa. membiasakan diri untuk tidak bergantung dengannya. mencoba untuk berhenti menghubunginya dan berhenti menjadi stalker akun sosmednya. Terkadang sering tertawa kalau ingat saat dulu aku dan dia tidak pernah bisa akur saat di bangku SMP. ingat saat aku mengumpat, jangan sampai jatuh cinta pada laki laki itu namun pada akhirnya aku jatuh cinta bahkan sampai menyayangi laki laki itu. laki laki yang dulu aku anggap sebagai laki laki judes, galak, dan berkepribadian buruk. Ya memang sikap dia begitu, tapi saat aku berpacaran dengannya, sifatnya tidak seburuk yang aku bayangkan. Kadang dia bisa juga bersikap romantis dan lembut. tapi mengingat masa masa itu hanya akan membuatku semakin susah untuk maju. Semua akan indah pada waktunya. Mungkin bukan sekarang tapi suatu saat.
"Cinta memang banyak bentuknya, tapi tidak semuanya bisa bersatu"
"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar